PATI – Banyaknya kapal nelayan yang memilih bersandar akibat mahalnya harga solar industri mulai memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi perekonomian masyarakat pesisir di Juwana, Kabupaten Pati. Dampaknya dinilai tidak hanya dirasakan nelayan, tetapi juga berbagai sektor usaha yang bergantung pada aktivitas perikanan.
Sekretaris Komisi B DPRD Kabupaten Pati, Mukit, mengatakan sekitar 80 persen kapal nelayan berukuran di atas 30 Gross Ton (GT) saat ini tidak melaut karena tingginya biaya operasional.
Menurutnya, berhentinya aktivitas kapal secara otomatis mengurangi perputaran ekonomi di kawasan pelabuhan. Pedagang ikan, buruh bongkar muat, pabrik es, pemasok logistik kapal, hingga pelaku usaha kecil di sekitar pelabuhan ikut terdampak.
“Ketika kapal tidak melaut, bukan hanya nelayan yang kehilangan penghasilan. Banyak usaha lain yang selama ini hidup dari aktivitas perikanan juga mengalami penurunan pendapatan,” kata Mukit.
Ia menjelaskan, sektor perikanan memiliki rantai ekonomi yang panjang. Semakin lama kapal bersandar, semakin besar pula dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat pesisir.
Selain menurunkan pendapatan pelaku usaha, kondisi tersebut juga berpotensi mengurangi pasokan ikan di pasaran sehingga memengaruhi stabilitas perdagangan hasil laut.
“Efeknya sangat luas. Mulai dari ABK, pedagang ikan, buruh angkut, pabrik es, hingga pelaku UMKM di sekitar pelabuhan ikut terdampak. Kalau kapal terus berhenti beroperasi, ekonomi pesisir bisa semakin lesu,” ujarnya.
Mukit berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menekan beban operasional nelayan, sehingga kapal-kapal yang kini bersandar dapat kembali beroperasi.
“Perikanan merupakan denyut nadi ekonomi Juwana. Kami berharap pemerintah segera menghadirkan kebijakan yang mampu menggerakkan kembali aktivitas melaut agar masyarakat pesisir bisa kembali memperoleh penghasilan,” pungkasnya.
(ADV)





















