PATI – Perubahan iklim dan dinamika cuaca ekstrem yang sulit diprediksi menjadi tantangan nyata bagi para petani jagung di Kabupaten Pati. Mengantisipasi risiko penurunan mutu panen akibat tingginya curah hujan, jajaran legislatif mendorong percepatan bantuan teknologi pengeringan tanaman.
Anggota Komisi B DPRD Pati, Sudi Rustanto, menyebutkan bahwa curah hujan yang tinggi saat musim panen sering kali menjadi mimpi buruk bagi para petani. Tanpa ketersediaan dryer, jagung yang baru dipetik berisiko tinggi berjamur dan rusak.
“Faktor cuaca adalah variabel yang tidak bisa kita kontrol. Namun, dampak buruknya terhadap hasil panen bisa kita cegah jika petani dibekali dengan sarana dryer yang memadai di desa-desa,” ujar Sudi.
Ia menjelaskan bahwa kegagalan menjaga kadar air jagung pada kisaran 14 persen tidak hanya menurunkan nilai jual, tetapi juga berpotensi merusak cadangan pangan daerah. Pengeringan yang optimal menjadi benteng pertama dalam menjaga daya tahan simpan produk pangan.
Sudi meminta pemerintah daerah melalui dinas pertanian untuk segera memetakan wilayah-wilayah rawan kendala pengeringan dan mengintervensinya dengan alokasi bantuan sarana pascapanen yang tepat sasaran.
“Langkah antisipasi ini sangat penting demi menjaga stabilitas pasokan pangan kita. Kita harus pastikan keringat dan jerih payah para petani terbayarkan dengan hasil panen yang selamat dan bernilai tinggi,” tegasnya.
(ADV)





















