banner 728x250

Petani Garam Batangan Andalkan Pompa, DPRD Pati Dorong Solusi Pengairan Bersama

banner 120x600
banner 468x60

PATI, redaksinusantara.id — Terbatasnya aliran air laut menuju kawasan tambak membuat petani garam di Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, harus mencari alternatif agar kegiatan produksi tetap berjalan. Sebagian petani kini memanfaatkan pompa untuk membantu memasukkan air laut ke petakan tambak.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Pati, Hilal Muharom, mengatakan penggunaan pompa merupakan upaya mandiri petani menghadapi kondisi pasang air laut yang rendah. Namun, cara tersebut juga menimbulkan kebutuhan biaya tambahan dan tidak semua petani memiliki peralatan dengan kemampuan yang sama.

“Petani sudah berusaha mencari solusi sendiri dengan menggunakan pompa. Tetapi ini tentu membutuhkan biaya dan kemampuan peralatan yang tidak sama antara petani satu dengan lainnya,” ujar Hilal.

Persoalan tersebut terjadi ketika kemarau panjang membuat permukaan air laut dan pasang berada pada kondisi rendah. Akibatnya, air laut sulit mengalir secara alami menuju tambak.

Lebih dari 300 hektare lahan tambak garam di Batangan disebut terdampak kondisi tersebut. Produksi pun belum dapat berlangsung secara optimal karena ketersediaan air sebagai bahan baku utama garam menjadi terbatas.

Hilal menilai penggunaan pompa secara mandiri tidak dapat dijadikan sebagai solusi utama dalam jangka panjang. Selain membutuhkan biaya operasional, kemampuan petani untuk menyediakan dan mengoperasikan pompa juga berbeda-beda.

“Kalau petani terus mengandalkan pompa, tentu ada biaya operasional. Kita perlu melihat apakah ada solusi yang lebih efisien dan bisa digunakan bersama,” katanya.

Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah melalui dinas terkait melakukan pemeriksaan langsung terhadap jaringan saluran air yang menuju kawasan tambak garam.

Pengecekan diperlukan untuk mengetahui kondisi saluran sekaligus mencari titik-titik yang menyebabkan aliran air laut tidak dapat masuk secara optimal. Jika ditemukan persoalan pada infrastruktur pengairan, penanganan dapat disusun berdasarkan tingkat kebutuhan dan kondisi di lapangan.

Hilal juga meminta agar kebutuhan infrastruktur pengairan di kawasan tambak dipetakan secara lebih terperinci. Menurutnya, pemetaan tersebut dapat menjadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan bentuk penanganan yang lebih efektif.

Ia berharap tersedia sistem pengairan yang dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh petani sehingga beban biaya tidak sepenuhnya ditanggung masing-masing petambak.

Dengan dukungan akses air yang lebih baik, Hilal berharap petani garam di Batangan dapat mempertahankan aktivitas produksinya sekaligus mengurangi ketergantungan pada peralatan pompa secara mandiri.

(ADV)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *