banner 728x250

DPRD Pati Minta Pembinaan Kepala Sekolah Diperkuat untuk Cegah Bullying

banner 120x600
banner 468x60

PATI, redaksinusantara.id — Upaya mencegah perundungan di lingkungan pendidikan dinilai perlu dimulai dari penguatan kapasitas para kepala sekolah. Wakil Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Pati dari Fraksi Golkar, Endah Sri Wahyuningati atau Mbak Ning, meminta pemerintah daerah bersama instansi terkait meningkatkan pembinaan kepada seluruh pimpinan satuan pendidikan.

Menurutnya, kepala sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi siswa. Karena itu, pemahaman mengenai pencegahan hingga penanganan kasus bullying perlu dimiliki secara merata oleh seluruh kepala sekolah.

“Kalau perlu seluruh kepala sekolah dikumpulkan dan diberikan pembinaan bersama. Mereka perlu mendapatkan pemahaman yang sama bahwa bullying tidak boleh dianggap sebagai kenakalan anak biasa,” ujar Mbak Ning.

Ia menekankan, tanggung jawab pencegahan perundungan tidak hanya berada di tangan kepala sekolah. Guru dan tenaga kependidikan juga harus memahami bagaimana mengenali serta merespons ketika terdapat indikasi kekerasan atau perundungan terhadap siswa.

Setiap laporan yang muncul, lanjutnya, harus segera mendapatkan perhatian. Menurut Mbak Ning, persoalan antarsiswa tidak semestinya langsung dianggap sebagai konflik biasa tanpa melihat kondisi dan dampak yang dialami korban.

“Ketika ada laporan dari siswa, harus segera ditindaklanjuti. Jangan menunggu sampai persoalannya menjadi besar dan korban mengalami dampak yang lebih berat,” katanya.

Mbak Ning juga mendorong Dinas Pendidikan maupun Kementerian Agama Kabupaten Pati agar menjadikan edukasi antiperundungan sebagai bagian dari pembinaan rutin. Sosialisasi dinilai tidak seharusnya baru dilakukan ketika kasus telah mencuat.

Selain kemampuan menangani laporan, guru juga perlu dibekali keterampilan untuk mengenali perubahan perilaku siswa. Sebab, tidak semua anak yang mengalami bullying berani menyampaikan apa yang mereka alami secara langsung.

“Guru juga harus dibekali cara mengenali tanda-tanda anak yang menjadi korban bullying. Kadang anak tidak berani bercerita, sehingga guru harus peka terhadap perubahan perilakunya,” jelasnya.

Di sisi lain, keterlibatan keluarga juga dianggap penting. Mbak Ning meminta sekolah membangun komunikasi yang lebih aktif dengan orang tua agar kondisi anak dapat dipantau secara bersama-sama.

“Orang tua juga harus menjadi bagian dari sistem pengawasan. Kalau sekolah dan orang tua komunikasinya baik, potensi persoalan bisa diketahui lebih awal,” imbuhnya.

Ia berharap penguatan pembinaan tersebut diterapkan secara menyeluruh, baik di sekolah umum maupun madrasah. Dengan sinergi antara sekolah, keluarga, pemerintah dan lingkungan sekitar, upaya menciptakan ruang pendidikan yang aman bagi anak di Kabupaten Pati diharapkan dapat semakin kuat.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *